Tuesday, 3 May 2011

ASKEP NEOPLASMA OTAK / TUMOR OTAK

PENGERTIAN
Pertumbuhan jaringan yang tidak normal yang tumbuh di jaringan otak.

KLASIFIKASI
a. Berdasar asal : primer dan metastase.
b. Keganasannya : benign dan malignant.
c. Lokasi pada otak : intra axial dan ekstra axial.
d. Encapsulation : encapsul dan nonencapsul.
e. Histologi.

ETIOLOGI
a. Degenerasi atau pertumbuhan neoplastik.
b. Radiasi.
c. Virus.
d. Substansi-substansi carcinogen.
e. Bawaan : meningioma, astrositoma, neurofibroma.

PATOFISIOLOGI
Adanya massa / neoplasma pada jaringan otak akan berdampak pada jaringan otak sendiri secara lokal dan dampak tumor secara umum. Secara lokal efeknya berupa infiltrasi, invasi dan pengrusakan jaringan otak dan secara langsung akan menekan struktur saraf sehingga terjadi degenerasi dan gangguan sirkulasi darah. Edema juga akan meningkat, selain itu ICP juga meningkat apabila terjadi hambatan sirkulasi cairan cerebrospinalis.
Efek tumor tergantung lokasi, jenis dan pertumbuhan tumor, kebanyakan tumor otak ini berkembang lambat ( progresif lambat ) dengan onset yang perlahan-lahan, namun kadang-kadang ada juga tumor otak dengan gejala yang akut. Manifestasi klinis pada prinsipnya berupa manifestasi dari peningkatan tekanan intra kranial, baik karena efek massa tumor ( SOL : space occupying lesion / lesi desak ruang ) atau karena edema cerebri atau karena hydrosefalus obstruktif.
Klinis peningkatan tekanan intrakranial, selain meningkatnya tekanan intra kranial juga akan disertai “ bangkitan epilepsi” seperti terjadi pada tumor supra tentorial.

MANIFESTASI KLINIS
a. Sakit kepala : mendalam, tumpul, terus menerus, hebat terutama pada pagi hari atau saat beraktivitas
b. Vomiting : rangsang muntah, proyektil
c. Papil edema : TIK meningkat ----- obstruktif

Manifestasi lainnya terjadi sangat bervariasi, tergantung pada lokasi tumor, misalnya :
a. Tumor pada lobus frontal akan dijumpai gangguan kepribadian (dari mulai ganguan yang ringan sampai psikosa), gangguan intelektual, hilangnya daya ingat, affect long tidak tepat.
b. Tumor pada lobus oksipital akan dijumpai gangguan penglihatan, kejang-kejang.
c. Tumor pada gyrus foracental akan dijumpai kejang jackson.
d. Tumor pada lobus temporal akan dijumpai halusinasi penciuman, penglihatan dan pengecapan, kejang psikomotor.
e. Tumor pada lobus parietal sakan dijumpai ketidakmampuan membuat gambar, ketidakmampuan membedakan objek.

PENGOBATAN DAN PERAWATAN
a. Terapi bedah.
b. Radio terapi.
c. Kemoterapi.
d. Perawatan post operatif.
e. Perawatan efek samping terapi.
f. Pendidikan pasien.

PENATALAKSANAAN
a. Pembedahan.
b. Kontrol rasa nyeri.
c. Mengatasi edema medula spinalis.
d. Support atas dysfungsi neurologis.
e. Terapi fisik dan radiasi sesudah operasi.
f. Dukungan psikososial.
g. Kontrol tanda vital dan neurologi.

PENGKAJIAN
a. Data Subyektif
o Pemahaman klien tentang diagnosa penyakitnya.
o Perubahan kepribadian.
o Adanya sensasi yang abnormal seperti parasthesia dan anesthesia.
o Gangguan penglihatan seperti kebutaan atau diplopia.
o Adanya keluhan mencium bau-bauan yang tidak biasa.
o Adanya nyeri kepala.
o Hilangnya pendengaran.
o Ketidakmampuan melakukan ADL.

b. Data Obyektif
o Kekuatan otot / pergerakan.
o Gaya berjalan.
o Tingkat kesadaran.
o Orientasi.
o Daya ingat.
o Kondisi pupil : ukuran, reaksi terhadap cahaya dan kesamaran.
o Pemeriksaan tanda-tanda vital.
o Pemeriksaan funduskopy untuk melihat adanya papiludemia.
o Kejang-kejang.
o Gangguan bicara.
o Gangguan fungsi syaraf cradialis.
o Tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial.

c. Data Penunjang
o Foto tengkorak.
o CT Scan.
o Arteriografi atau ventrikulografi
o Foto thorax
o Pemeriksaan darah

DIAGNOSA

Pre Operasi
a. Resiko terjadinya cedera berhubungan dengan perubahan tekanan intrakranial dan fungsi persepsi sensori sekunder terhadap tumor otak.

Tujuan :
Klien terbebas dari cidera.

Intervensi :
o Observasi perjalanan penyakit yang progresif :
 Catat tingkat kesadaran setiap 4-5 jam sekali.
 Gunakan GCS mengkaji coma secara cepat.
 Catat kualitas dan ketegangan otot muka dan ekstremitas.
 Kontrol tekanan darah, Respirasi, nadi dan juga neurologisnya setiap 2-4 jam sekali.
 Kontrol suhu badan setiap 2-4 jam, hypotermi atau kedinginan merupakan indikasi.
o Pelihara keamanan lingkungan dengan :
 Menggunakan pengaman samping dengan bantal.
 Menggunakan restraint yang lembut.
o Pelihara ketenangan lingkungan.
o Pertahankan cairan parenteral sesuai yang ditentukan.
o Kontrol adanya rasa nyeri.
o Usahakan komunikasi yang diperlukan :
 Bel pemanggil diletakkan dalam jangkauan klien.
 Letakkan buku catatan dan alat tulis dekat klien.
o Observasi tanda-tanda perubahan mental dan personalitas.
o Ikuti aktivitas klien.
o Orientasikan klien dengan lingkungan sekitarnya sesuai dengan diperlukan.
o Berikan dukungan emosi.
o Jelaskan semua prosedur dan pengobatan, dengan menggunakan kata-kata yang dimengerti klien.
o Ikatkanlah klien dan keluarganya untuk membantu merencanakan dan melaksanakan perawatan.
o Jelaskan pada klien dan keluarganya bahwa perubahan tingkah laku dan bicara yang tidak terkontrol merupakan bagian dari proses penyakit.
o Jelaskan dan persiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostic apabila ada rencana untuk hal tsb.
o Siapkan klien untuk pengobatan seperti :
 Terapi radiasi
 Pembedahan
 Rehabilitasi neurologist

b. Resiko defisit perawatan diri ; kebersihan, makanan, toilet dan atau mobilisasi berhubungan dengan kelemahan neurologist, persepsi dan kognitif.

Tujuan :
Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi.

Intervensi :
o Lakukan kebersihan mulut.
o Lakukan perawatan kulit.
o Lakukan perawatan mata:
 Hilangkan kerak yang terbentuk
 Berikan tetes mata seperti yang dianjurkan.
o Jika ada kelemahan penglihatan dan atau lapang pandang biasakanlah klien dengan sekitarnya.
o Menjamin / menjaga elimiansi tetap lancar :
 Gunakan kateter atau dower kateter sesuai anjuran.
 Hindari terjadinya komplikasi dan ketegangan, gunakan pelembek feces dan laksativ sedang.
o Mempertahankan diet sesuai petunjuk.
o Bantu klien apabila mengalami kesulitan makan / minum.
o Ambulasi seperti : membantu dengan kursi roda, tingkat, kruk.
o Jika klien tidak dapat bergerak, ajarkan dan bantulah klien untuk miring, batuk dan bernafas dalam setiap 2 jam.
o Posisi kepala letakkan lebih tinggi ± 30 -45 derajat dari tempat tidur.
o Lakukan latihan ROM baik pasif maupun aktif pada seluruh ekstremitas setiap 4-5 jam sekali.

c. Ansietas
Kemungkinan penyebab :
o Gangguan komunikasi verbal.
o Gangguan fungsi sensori dan motorik.
o Lingkungan asing.
o Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, test diagnostik dan pengobatan, prognosa yang tidak jelas.
o Gangguan proses berpikir.
o Dukungan sosial ekonomi yang kurang.
o Kebutaan.

Tujuan / Kriteria Hasil :
Kecemasan berkurang, ditandai dengan :
o Pola tidur kembali ke keadaan semula.
o Ekspresi wajah relaks.
o Tanda vital stabil.
o Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
o Klien dapat mengungkapkan rasa cemas dan takut berkutang.

Intervensi Keperawatan :
o Kaji tanda dan gejala kecemasan pada klien seperti insomnia, tremor iritabel, tidak dapat tidur, diaporesis, tachypnoe, tachycardia, peningkatan tekanan darah, wajah pucat,menarik diri serta klien mengungkapkan ketakutan-ketakutan dan rasa cemasnya.
o Orientasikan klien dengan lingkungan RS, alat-alat dan kegiatan sehari-hari.
o Perlihatkan sikap yang tenang dalam berinteraksi dengan klien.
o Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya (takut, cemas) dan beri umpan balik.
o Beri penguatan terhadap penjelasan dokter dan jelaskan pengertian yang salah tentang diagnosa penyakitnya, rencana pengobatan dan prognosanya.
o Jelaskan terlebih dahulu semua test diagnostik yang akan dilakukan.
o Ciptakan lingkungan yang tenang sehingga klien dapat beristirahat dengan baik.
o Bantu klien mengidentifikasi stressor dan cara menanggulanginya.
o Beri dorongan pada orang-orang yang dekat dengan klien untuk berpartisipasi dalam perawatannya tanpa menambah rasa cemas klien.
o Beri informasi yang dibutuhkan klien dan orang-orang yang dekat sesuai dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi serta dorong mereka untuk menanyakan ha-hal yang belum dimengerti.

DIAGNOSA KEPERAWATAN LAIN YANG MUNGKIN MUNCUL :
o Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan intra cranial sekunder terhadap tumor otak.
o Perubahan rasa nyaman : nyeri (sakit kepala).
o Resiko perubahan komunikasi : verbal.

Post Operasi

a. Nyeri kepalaKemungkinan penyebab :
o Trauma jaringan cerebral (akibat prosedur pembedahan).
o Peregangan atau komplikasi pada jaringan dan pembuluh darah cerebral (akibat peningkatan tekanan intra kranial bila terjadi).
o Iritasi meningen (akibat perdarahan pembuluh darah meningeal, peradangan meningens).
Tujuan / Kriteria Evaluasi :
Nyeri kepala berkurang :
o Klien mengungkapkan nyeri kepalanya berkurang
o Ekspresi wajah dan posisi tubuh relaks

Intervensi Keperawatan :
o Kaji bagaimana respon klien terhadap nyeri.
o Kaji persepsi klien tentang nyerinya mencakup lokasi, intensitas dan tipenya, gunakan skala 1 – 10 untuk mengkaji status nyeri klien.
o Kaji tanda-tanda nyeri dari respon non verbal.
o Kaji faktor-faktor yang dapat menambah keluhan nyeri kepala klien.
o Ciptakan lingkungan yang jauh dari stimulus (batasi pengunjung, penerangan yang tidak menyilaukan).
o Beri kompres dingin pada kepala
o Beri usapan pada punggung.
o Ajarkan dan anjurkan melakukan tehnik relaksasi
o Berikan obat-obatan analgetik non narkotik seperti codein sesuai program terapi. Jangan diberi golongan narkotik karena dapat menyebabkan depresi pernafasan

b. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap pembedahan; kurang pengetahuan tentang cara perawatan luka post operasi. Tujuan :
Infeksi tidak terjadi.

Intervensi :
o Rawat luka secara aseptik dan antiseptik dengan mengganti balutan setiap 2 kali sehari.
o Catat adanya tanda – tanda infeksi pada luka.
o Jaga kebersihan area disekitar luka.
o Jelaskan kepada klien tentang pentingnya memelihara personal hygiene bagi klien.
o Anjurkan dan motivasi klien untuk selalu menggunakan alat-alat yang bersih.
o Pertahankan masukan nutrisi (kalori dan protein) yang adekuat.
o Observasi tanda vital setiap 4 jam.
o Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian Antibiotik.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges Moorhouse Geissle, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rachmadi, Agus. 1993. Perawatan Gangguan Sistem Persarafan. AKPER Depkes, Banjarbaru.
Suddarth, brunner. Text of Medical Surgical-Nursing, Fifth Edition, j.b Lippincort Company, Philadelphia.

Tucker, Susan Martin --- (et al). 1988. Standar Perawatan Pasien. Volume 3. penerbit : EGC, Jakarta.